Kabupaten Kepulauan Meranti, terletak di Provinsi Riau, Indonesia, merupakan sebuah kawasan yang unik dengan berbagai potensi dan kekayaan alam. Ibu kotanya adalah Selatpanjang, sebuah kota yang memiliki sejarah kaya dan beragam budaya. Dengan luas wilayah 3.707,84 km² dan penduduk sekitar 206.116 jiwa (2020), Kabupaten Kepulauan Meranti menawarkan berbagai aspek yang menarik mulai dari geografi, sejarah, ekonomi, hingga budaya.
Daftar Isi
- Geografi dan Topografi
- Sejarah
- Pemerintahan dan Organisasi
- Demografi
- Ekonomi
- Sumber Daya Alam
- Perdagangan dan Industri
- Pariwisata
- Seni dan Budaya
- Kuliner
- Transportasi
1. Geografi dan Topografi
Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari beberapa pulau, termasuk Pulau Tebing Tinggi, Pulau Padang, Pulau Merbau, Pulau Ransang, Pulau Topang, Pulau Manggung, Pulau Panjang, Pulau Jadi, Pulau Setahun, Pulau Tiga, Pulau Baru, Pulau Paning, Pulau Dedap, Pulau Berembang, dan Pulau Burung. Nama “Meranti” berasal dari gabungan nama pulau-pulau tersebut.
Secara geografis, kabupaten ini berada pada koordinat antara sekitar 0° 42′ 30″ – 1° 28′ 0″ LU, dan 102° 12′ 0″ – 103° 10′ 0″ BT, dan terletak pada bagian pesisir timur pulau Sumatra. Topografi daerah ini sebagian besar datar dengan ketinggian rata-rata 1-6,4 m di atas permukaan laut, dan memiliki iklim tropis.
Batas Wilayah
- Utara: Selat Malaka, Kabupaten Bengkalis
- Timur: Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau
- Selatan: Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan
- Barat: Kabupaten Bengkalis
Topografi
Bentang alam kabupaten ini sebagian besar terdiri dari daratan rendah dengan struktur tanah berupa tanah alluvial dan grey humus dalam bentuk rawa-rawa atau tanah basah dan berhutan bakau (mangrove). Lahan ini subur untuk mengembangkan pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Karakteristik tanah di daerah ini termasuk kedalaman solum cukup dalam dan bergambut (> 100 cm), tekstur lapisan bawah halus (liat), dan lapisan atas merupakan Kemik (tingkat pelapukan sampai tingkat menengah). Konsistensi tanah lekat, porositas tanah sedang, reaksi tanah sangat masam dengan pH berkisar antara 3,1–4,0, dan kepekaan terhadap erosi termasuk rendah.
Formasi geologinya terbentuk dari jenis batuan endapan aluvium muda berumur holosen dengan litologi lempung, lanau, kerikil kecil, dan sisa tumbuhan di rawa gambut. Tidak ditemukan daerah rawan longsor karena arealnya datar, yaitu rawa gambut.
Berdasarkan hasil penafsiran peta topografi dengan skala 1:250.000, kawasan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagian besar bertopografi datar dengan kelerengan 0–8 %, dengan ketinggian rata-rata sekitar 1-6,4 m di atas permukaan laut. Daerah ini beriklim tropis dengan suhu udara antara 25°–32° Celcius, dengan kelembaban dan curah hujan cukup tinggi. Musim hujan terjadi sekitar bulan September-Januari, dan musim kemarau terjadi sekitar bulan Februari hingga Agustus.
2. Sejarah
Kota Selatpanjang
Kota Selatpanjang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Meranti dan merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan terkenal perniagaan di dalam Kesultanan Siak. Bandar ini sejak dahulu telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa, karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan kultural maupun perdagangan.
Sejarah Kota Selatpanjang dimulai dari perintah Sultan Siak VII, Sultan Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin Baalawi, untuk mendirikan Negeri atau Bandar di Pulau Tebing Tinggi pada tahun 1805. Nama asal muasal kota ini adalah Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi, yang kemudian berubah menjadi Negeri Makmur Bandar Tebingtinggi Selatpanjang pada tahun 1899 berdasarkan kesepakatan bersama dengan pemerintahan kolonial Belanda.
Seiring berjalannya waktu, Kota Selatpanjang dan sekitarnya ini merupakan Wilayah Kewedanan di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Tebingtinggi. Pada tanggal 19 Desember 2008, daerah Selatpanjang dan sekitarnya ini berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Meranti memekarkan diri dari Kabupaten Bengkalis dengan ibukota Selatpanjang.
Sejarah Pemekaran
Pembentukan Kabupaten Meranti merupakan pemekaran dari kabupaten Bengkalis dibentuk pada tanggal 19 Desember 2008. Dasar hukum berdirinya kabupaten Kepulauan Meranti adalah Undang-undang nomor 12 tahun 2009, tanggal 16 Januari 2009. Tuntutan pemekaran kabupaten Kepulauan Meranti sudah diperjuangkan oleh masyarakat Meranti sejak tahun 1957.
3. Pemerintahan dan Organisasi
Pemerintahan
Drs. H. Syamsuar, M.Si., adalah Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Kepulauan Meranti pasca pemekaran yang dilantik pada 26 Mei 2009, oleh Mendagri Mardiyanto di Jakarta. Selanjutnya, berdasarkan hasil Pilkada yang dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2010, terpilih pasangan Drs. Irwan Nasir, M.Si., dan Drs. Masrul Kasmy, M.Si., sebagai bupati dan wakil bupati terpilih sekaligus Bupati dan Wakil Bupati Pertama di Kabupaten Meranti yang kemudian dilantik pada hari Jum’at, 30 Juli 2010 oleh Gubernur Riau, H. Rusli Zainal atas nama Mendagri Gamawan Fauzi SH.MM di Selatpanjang.
Dewan Perwakilan
Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti dalam tiga periode terakhir:
Partai Politik | Jumlah Kursi dalam Periode | |||
---|---|---|---|---|
2014–2019 | 2019–2024 | 2024–2029 | ||
PKB | 2 | ![]() |
![]() |
|
Gerindra | 4 | ![]() |
![]() |
|
PDI-P | 3 | ![]() |
![]() |
|
Golkar | 3 | ![]() |
![]() |
|
NasDem | 0 | ![]() |
![]() |
|
PKS | 1 | ![]() |
![]() |
|
Hanura | 3 | ![]() |
![]() |
|
PAN | 5 | ![]() |
![]() |
|
PBB | 1 | ![]() |
![]() |
|
Demokrat | 4 | ![]() |
![]() |
|
PSI | (baru) 0 | ![]() |
||
PPP | 4 | ![]() |
![]() |
|
Jumlah Anggota | 30 | ![]() |
![]() |
|
Jumlah Partai | 10 | ![]() |
![]() |
Kecamatan
Secara administratif, Kabupaten Kepulauan Meranti terdiri dari 9 kecamatan dan 98 desa/kelurahan, yaitu:
- Tebing Tinggi – Selatpanjang – 81,00 km² – 9 desa – 66.550 jiwa
- Tebing Tinggi Barat – Alai – 587,33 km² – 12 desa – 18.340 jiwa
- Rangsang – Tanjung Samak – 411,12 km² – 14 desa – 20.600 jiwa
- Rangsang Barat – Bantar – 130,90 km² – 16 desa – 20.100 jiwa
- Merbau – Teluk Belitung – 435,71 km² – 14 desa – 15.760 jiwa
- Pulau Merbau – Semukut – 380,40 km² – 7 desa – 16.320 jiwa
- Tebing Tinggi Timur – Sungai Tohor – 768,00 km² – 7 desa – 13.480 jiwa
- Tasik Putri Puyu – Bandul – 542,24 km² – 10 desa – 17.940 jiwa
- Rangsang Pesisir – Telesung – 371,14 km² – 10 desa – 19.320 jiwa
Dalam wacana kedepan masih ada 1 kecamatan dalam tahap pemekaran yaitu Kecamatan Alah Air.
Lambang Daerah
Perisai dengan warna dasar hijau yang memiliki arti alam yang subur sebagai ketahanan pangan masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti, dengan garis pinggir hitam dan kuning memiliki kekuatan dan kebesaran masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti dalam mempertahankan wilayahnya, serta lekukan di kanan dan kiri atas memiliki arti bentuk geografis wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti yang memiliki tanjung dan teluk.
Bambu berwarna kuning memiliki arti semangat dan perjuangan masyarakat dalam pembentukan Kabupaten Kepulauan Meranti dengan 9 (Sembilan) Ruas Bambu menunjukan tahun 2009 sebagai tahun pengesahan Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pohon sagu memiliki arti salah satu sumber kekuatan pangan dan perekonomian masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti dengan jumlah pohon sebanyak 1 (satu) batang dan pelepah yang berjumlah 16 (enam belas) buah menunjukan tanggal 16 Januari yang merupakan tanggal dan bulan pengesahan Kabupaten Kepulauan Meranti.
Daun sirih, urat-urat pada daun sirih dan setangkai buah pinang berwarna orange memiliki arti sifat dan ciri masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti yang selalu hidup dalam tuntunan agama, rukun dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat istiadat dan budaya, ramah tamah dan terhormat serta selalu mengembangkan ilmu pengetahuan. 17 (Tujuh Belas) helai daun sirih, 45 (empat puluh lima), urat-urat pada daun sirih dan 8 (delapan) buah pinang merupakan tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Perahu Layar Berwarna Kuning dengan warna putih yang terkembang, melambangkan wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti Sebagai kawasan strategis yang menjadi sumber ekonomi masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti dengan letaknya yang berada pada jalur transportasi laut serta memiliki potensi sebagai kawasan niaga dengan posisinya sebagai tempat persinggahan atau daerah transit.
Lima garis gelombang berwarna biru dan putih menunjukan jumlah sila yang terdapat dalam Panca Sila sebagai dasar Negara Republik Indonesia serta melambangkan masyarakat kabupaten kepulauan meranti yang berketuhanan, berkemanusiaan, bersatu, demokratis dan sejahtera.
Tulisan Arab Melayu “Kepulauan Meranti” melambangkan penghormatan masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti terhadap ilmu pengetahuan dan sejarah.
Pita berwarna merah bertulisan “KEPULAUAN MERANTI” berwarna putih melambangkan tekad dan kesiapan rohani dan jasmani masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti dalam menghadapi perubahan peradaban dan perkembangan zaman.
4. Demografi
Pertumbuhan Penduduk
Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti selama kurun sepuluh tahun terakhir yakni dari tahun 2000 hingga tahun 2010 adalah sekitar 0,60 persen. Penduduk aslinya terdiri dari suku Melayu dan suku Akik.
Berdasarkan hasil sensus penduduk (SP) Badan Pusat Statistik (BPS) Bengkalis, yang tinggal pada tahun 2000 berjumlah sekitar 166,1 ribu jiwa dan SP pada tahun 2010 ini jumlah penduduk meningkat sekitar 176,4 ribu jiwa, yang terdiri dari 90.577 laki-laki, dan 85.794 perempuan.
Laju pertumbuhan penduduk yang paling tinggi di kabupaten termuda ini adalah di Kecamatan Tebing Tinggi Barat dengan angka sekitar 1,58 persen atau dari 13,0 ribu jiwa pada SP tahun 2000 menjadi 15,2 ribu jiwa pada SP tahun 2010 tahun ini. Sedangkan yang terendah adalah di Kecamatan Rangsang Barat, sekitar 0,12 persen atau hasil SP pada tahun 2000 berjumlah 24,6 ribu jiwa menjadi 24,9 ribu jiwa pada SP 2010.
Kepadatan Penduduk
Rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Kepulauan Meranti adalah sebanyak 47 jiwa per Kilometer persegi. Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya yaitu Kecamatan Rangsang Barat, sebanyak 97 jiwa per Kilometer persegi, diikuti Kecamatan Tebing Tinggi sekitar 66 jiwa per Kilometer persegi. Sementara itu, dibandingkan dengan hasil pendataan yang terdaftar melalui catatan sipil setempat berjumlah sekitar 230 ribu jiwa dan pendataan melalui SP BPS tahun 2010 penduduk Kepulauan Meranti, bahwa hanya berjumlah 175 ribuan saja yang tinggal di daerah tersebut. Dapat dikatakan bahwa, setidaknya sekitar 23 persen lebih penduduk yang terdaftar di Kabupaten Kepulauan Meranti tidak menetap.
5. Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Meranti pada tahun 2009 yaitu sebesar 6,59 persen, dibandingkan dengan tahun 2008 berkisar 7,34 persen. PDRB per kapita dan pendapatan regional per kapita tahun 2009 mengalami peningkatan. Atas dasar harga berlaku, PDRB per kapita tahun 2008 sebesar Rp 20,67 juta menjadi Rp 24,43 juta pada tahun 2009. Atas dasar harga konstan 2000, PDRB per kapita tahun 2009 mengalami peningkatan dari sebesar Rp 6,13 juta pada tahun 2008 menjadi Rp 6,46 juta pada tahun 2009.
Nilai ekspor di Kabupaten Kepulauan Meranti hingga Desember 2009 mencapai US$ 10.759.426. Nilai ekspor tersebut hanya dari Pelabuhan Selatpanjang. Nilai impor di Kabupaten Kepulauan Meranti selama 2009 mencapai US$ 155.313 melalui pelabuhan Selatpanjang.
Sumber Daya Alam
Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi sumber daya alam, baik sektor Migas maupun Non Migas. Di sektor Migas berupa minyak bumi dan gas alam, yang terdapat di daerah kawasan pulau Padang. Di kawasan ini, telah beroperasi PT Kondur Petroleum S.A. di daerah Kurau desa Lukit (Kecamatan Merbau), yang mampu produksi 8500 barel/hari. Selain minyak bumi, juga ada gas bumi sebesar 12 MMSCFD (juta kubik kaki per hari) yang direncanakan penggunaannya dimulai 2011–2020.
Di sektor Non Migas, pada 2006, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi beberapa jenis perkebunan seperti sagu dengan produksi 440.309 ton/tahun, kelapa: 50.594,4 ton/tahun, karet: 17.470 ton/tahun, pinang: 1.720,4 ton/tahun, kopi: 1.685,25 ton/tahun. Hingga kini potensi perkebunan hanya diperdagangkan dalam bentuk bahan baku keluar daerah Riau dan belum dimaksimalkan menjadi industri hilir, sehingga belum membawa nilai tambah yang mendampak luas bagi kesejahteraan masyarakat lokal.
Sementara di sektor kelautan dan perikanan dengan hasil tangkapan: 2.206,8 ton/tahun. Selain itu masih ada potensi dibidang kehutanan, industri pariwisata, potensi tambang dan energi.
Perdagangan
Sebagian besar industri rumah tangga itu terdapat di Kecamatan Tebing Tinggi dengan jumlah 234 unit usaha, kemudian disusul Kecamatan Rangsang Barat 114 unit usaha, Kecamatan Rangsang 109 unit usaha, Kecamatan Merbau 38 unit usaha dan Kecamatan Tebing Tinggi Barat 37 unit usaha. Usaha yang digeluti itu antara lain anyaman tikar pandan, atap rumbia, pembuatan tempe, makanan ringan, arang, perabotan rumah tangga, batu bata, batako, pembuatan perahu/sampan, kopra, tepung sagu, mie sagu, sagu rendang, dan kopi.
Perikanan
Masyarakat Kepulauan Meranti, khususnya daerah pesisir pantai Pulau Rangsang memiliki ketergantungan tinggi terhadap produk perikanan. Setidaknya terdapat 47 spesies ikan yang telah dikenal sebagai ikan tangkapan masyarakat. Di antara ikan spesies yang dikenal ditangkapan masyarakat juga merupakan ikan komsumsi yang dikenal luas dan diperdagangkan di restoran-restoran besar baik di Riau maupun Luar Riau, antara lain Baung, Patin, Selais dan Toman.
Perkebunan dan Industri Sagu
Meranti termasuk salah satu Kawasan Pengembangan Ketahanan Pangan Nasional karena penghasil sagu terbesar di Indonesia. Luas area tanaman sagu di Kepulauan Meranti (44,657 Ha / 2006) yaitu 2,98% luas tanaman sagu nasional. Perkebunan sagu di Meranti telah menjadi sumber penghasilan utama hampir 20% masyarakat Meranti.
Produksi sagu (Tepung Sagu) di Kepulauan Meranti pertahun mencapai 440.339 Ton (tahun 2006). Produktivitas lahan tanaman sagu per tahun (kondisi eksisiting) dalam menghasilkan tepung sagu di Kepulauan Meranti mencapai 9,89 Ton/Ha.
Industri Pengolahan Arang Bakau
Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan, jumlah lokasi dan kapasitas produksi perusahaan industri arang bakau adalah:
- 22 perusahaan berlokasi di Kecamatan Tebing Tinggi dengan kapasitas produksi 2.710/ton.
- 14 perusahaan berlokasi di Kecamatan Rangsang dengan kapasitas produksi 1.540/ton.
- 11 perusahaan berlokasi di Kecamatan Merbau dengan kapasitas produksi 1.300/ton.
Terus menipisnya kawasan area hutan bakau menjadi perhatian serius pemerintah karena disamping adalah menyangkut mata pencaharian masyarakat setempat untuk dimanfaatkan sebagai industri pabrik arang, disisi lain juga menyangkut kerusakan ekosistem mangrove itu sendiri apabila terus di eksplotasi, hal ini di karena maraknya pengelolaan hutan bakau secara liar, menyebabkan kawasan hutan bakau terus menyempit setiap tahunnya.
Budidaya Sarang Burung Walet
Sejak awal keberadaannya, budidaya sarang burung walet menjadi primadona bagi masyarakat Kabupaten Meranti, terutama daerah kawasan Kota Selatpanjang. Dalam jangka 10 tahun dari tahun 2000 sampai sekarang telah menjamur ratusan penangkaran burung walet. Hal tersebut dikarenakan permintaan komoditas sarang burung walet sangat tinggi. Dari tempat ini, sarang burung walet diekspor ke Singapura dan Hongkong (Tiongkok).
6. Sumber Daya Alam
Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki berbagai potensi sumber daya alam, termasuk sektor migas dan non-migas, serta industri perikanan dan perkebunan, terutama sagu. Di sektor migas, terdapat minyak bumi dan gas alam di pulau Padang, dengan produksi minyak mencapai 8500 barel/hari dan gas bumi sebesar 12 MMSCFD.
Di sektor non-migas, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi perkebunan seperti sagu, kelapa, karet, pinang, dan kopi. Produksi sagu mencapai 440.309 ton/tahun, menjadikannya penghasil sagu terbesar di Indonesia. Selain itu, ada potensi di bidang kelautan dan perikanan dengan hasil tangkapan mencapai 2.206,8 ton/tahun.
7. Perdagangan dan Industri
Industri Rumah Tangga
Sebagian besar industri rumah tangga di Kabupaten Kepulauan Meranti terdapat di Kecamatan Tebing Tinggi dengan jumlah 234 unit usaha, kemudian disusul Kecamatan Rangsang Barat 114 unit usaha, Kecamatan Rangsang 109 unit usaha, Kecamatan Merbau 38 unit usaha, dan Kecamatan Tebing Tinggi Barat 37 unit usaha. Usaha yang digeluti antara lain anyaman tikar pandan, atap rumbia, pembuatan tempe, makanan ringan, arang, perabotan rumah tangga, batu bata, batako, pembuatan perahu/sampan, kopra, tepung sagu, mie sagu, sagu rendang, dan kopi.
Perikanan
Perikanan merupakan salah satu sektor utama di Kabupaten Kepulauan Meranti, terutama di daerah pesisir pantai Pulau Rangsang. Terdapat sekitar 47 spesies ikan yang ditangkap masyarakat, termasuk ikan komersial seperti Baung, Patin, Selais, dan Toman.
Perkebunan dan Industri Sagu
Perkebunan sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan sumber penghasilan utama bagi sekitar 20% masyarakat. Luas area tanaman sagu mencapai 44,657 Ha, atau 2,98% luas tanaman sagu nasional. Produksi sagu mencapai 440.339 Ton per tahun, dengan produktivitas lahan sebesar 9,89 Ton/Ha.
Industri Pengolahan Arang Bakau
Industri pengolahan arang bakau juga menjadi salah satu sektor penting di Kabupaten Kepulauan Meranti. Terdapat 22 perusahaan berlokasi di Kecamatan Tebing Tinggi dengan kapasitas produksi 2.710/ton, 14 perusahaan di Kecamatan Rangsang dengan kapasitas 1.540/ton, dan 11 perusahaan di Kecamatan Merbau dengan kapasitas 1.300/ton.
Budidaya Sarang Burung Walet
Budidaya sarang burung walet menjadi primadona bagi masyarakat Kabupaten Meranti, terutama di daerah kawasan Kota Selatpanjang. Dalam jangka 10 tahun terakhir, telah menjamur ratusan penangkaran burung walet. Sarang burung walet diekspor ke Singapura dan Hongkong dengan harga yang tinggi.
8. Pariwisata
Objek Wisata
Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki berbagai objek wisata yang menarik, termasuk pantai, tasik, dan kelenteng, serta perayaan budaya seperti Imlek.
Pantai
- Pantai Rangsang: Terletak di Desa Tanjung Kedabu, pantai ini menawarkan pemandangan indah dengan pasir putih dan air laut biru jernih.
- Pantai Tebing Tinggi: Menawarkan pemandangan alam yang indah dengan tebing-tebing yang tinggi dan hutan bakau yang hijau.
Tasik
- Tasik Nambus: Berlokasi di Desa Tanjung, pulau Tebing Tinggi, tasik ini dikelilingi hutan lindung dan menjadi tempat pemandian tradisional selama bulan Syafar.
- Tasik Air Putih: Satu-satunya tasik terlebar di kabupaten ini, terletak di Pulau Rangsang sebelah selatan Kota Selatpanjang. Tasik ini ditumbuhi oleh pohon palem merah yang menjadikan fenomena keunikan.
- Tasik Putri Pepuyu: Berlokasi di Desa Tanjung Padang / Pulau Padang Kecamatan Merbau, tasik ini terkenal dengan legenda tentang cinta Raja Terubuk dan Putri Pepuyu yang tidak kesampaian.
Kelenteng
- Kelenteng Hoo Ann Kiong (Vihara Sejahtera Sakti): Kelenteng tertua di Provinsi Riau, didirikan pada awal tahun 1800 dan menjadi tempat ibadah utama bagi umat Konghuchu maupun umat Buddha.
Perayaan Imlek
Imlek merupakan ajang promosi spektakuler wisata budaya unggulan di Kabupaten Kepulauan Meranti. Perayaan ini berlangsung selama 7 hari berturut-turut, dari hari awal menjelang Imlek sampai hari ke-6 (Cue Lak). Puncak acara berlangsung pada hari ke-6 bulan pertama Tahun Baru Imlek, biasanya disebut Cue Lak (Bahasa Hokkian).
Kemeriahan Imlek di Selatpanjang termasuk sembahyang di Vihara Sejahtera Sakti, keliling kota dengan Bentor (becak motor), Festival Kembang Api, dan perayaan ulang tahun Dewa Qing Shui Zu Shi. Perayaan ini juga diiringi atraksi tarian Liong (naga), Barongsai (singa), dan seni budaya Jawa Reog Ponorogo.
9. Seni dan Budaya
Pagelaran Seni Melayu Tari Zapin
Zapin merupakan tarian tradisional Melayu yang mendapat pengaruh dari Arab. Tarian ini biasa ditarikan oleh penari perempuan atau penari campuran laki-laki dengan perempuan. Pagelaran Seni ini biasa dilakukan pada hari-hari tertentu yang dianggap penting oleh masyarakat Selatpanjang seperti hari-hari besar keagamaan atau dalam acara pernikahan.
Fiesta Bokor Riviera
Suatu acara untuk memperkuat tali persaudaraan (silahturahmi) & menjunjung tinggi nilai khasanah budaya Melayu serta memperkenalkan wisata alam hutan mangrove di daerah Meranti. Acara ini di selenggarakan di desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat.
10. Kuliner
Selatpanjang dikenal sebagai kota kuliner dengan berbagai jenis makanan khas yang memiliki ciri khas tertentu. Beberapa makanan khas di sini antara lain:
Mie Sagu
Mie Sagu merupakan makanan khas dari daerah Selat Panjang, dikenal luas di seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Mie ini warnanya agak bening dan rasanya agak kenyal, tekstur kenyalnya seperti karet gelang dan warnanya seperti bihun hanya lebih bening dan ukurannya lebih besar. Rasa dan aromatiknya pun lain, tidak seperti mie basah ataupun bihun.
Mie Sultan
Mie Sultan terdiri dari campuran mie kuning yang telah direbus, bakwan udang, irisan telur, tauge, dan irisan mentimun. Plus taburan bawang goreng dan irisan seledri. Kuahnya dari kuah kacang yang kental dan mempunyai aroma rasa kacang yang sangat dominan dalam rasa dan terasa pedas.
Rama Rama Lada Hitam/Ma Cao Hey Selatpanjang
Rama rama adalah sejenis lopster lumpur (Thalassina anomola/mud lobster). Masyarakat Selatpanjang menyebutnya sebagai rama rama/Ma Cao Hey atau lopster bakau. Bentuknya seperti lopster tetapi ukuran lebih kecil, lembut dagingnya, rasanya seperti daging kepiting ataupun daging lopster, kaya akan gizi. Kandungan protein yang terkandung juga tinggi. Cara penyajian biasa dimasak seperti memasak kepiting lada hitam dengan saus tomat, cabe, nanas, dan kacang yang digiling dengan jumlah minyak yang banyak.
Miso
Miso adalah sejenis mie kuah, mie ini terdiri dari mie kuning dan mie bihun yang telah direbus dan ditaburi tahu, daging ayam, bawang goreng, dan irisan seledri dengan disiram kuah sup yang mempunyai ciri khas dengan aroma yang kental dan harum serta dengan paduan kecap dan cabe rawit sehingga rasanya keseluruhan terasa asin dan pedas.
11. Transportasi
Transportasi Laut
Sebagai daerah yang terletak pada bagian paling luar Provinsi Riau, kawasan ini merupakan jalur lintas antar provinsi bahkan antar negara (Singapura dan Malaysia). Transportasi laut lebih mengambil peranan penting di wilayah ini karena letaknya di kepulauan. Kota Selatpanjang telah memiliki Pelabuhan Ferry yaitu Pelabuhan Tanjung Harapan yang melayani jalur akses domestik maupun internasional.
Sejak tahun 2007 telah dibuka jalur khusus dari Selatpanjang langsung menuju Batu Pahat, Malaysia. Jarak antara Selatpanjang dengan Batu Pahat lebih dekat, waktu yang dibutuhkan hanya ditempuh sekitar 1,5–2 jam perjalanan.
Transportasi Darat
Kota Selatpanjang juga merupakan jalur transit keberbagai daerah Riau seperti Dumai (154 km), Bengkalis (81 km), Batam (106 km), Siak (76 km), dan Pekanbaru (150 km) ataupun kota-kota negara yang bertetangga dengan Indonesia seperti Muar (110 km), Batu Pahat (95 km), Johor Baru (128 km), Tanjung Pelepas (105 km), dan Singapura (117 km).
Transportasi Udara
Disamping akses transportasi laut dan darat, pembangunan pelabuhan udara perintis di daerah kecamatan Tebingtinggi Barat masih dalam tahap perencanaan.